Pages

Ini Reaksi Yang Dilakukan Oleh Tubuh Jika Sedang "Patah Hati"

Putus cinta memang sangat sulit untuk dihadapi, terutama jika kita berada di pihak yang diputuskan. Patah hati pada umumnya ditandai dengan rasa sakit pada jantung. Seolah-olah seperti ada beban berat yang menekan di dada hingga ke jantung (nyesek).
Ya! Putus cinta memang sakit banget, Bukan hanya sisi emosional saja yang terkuras, tetapi kesehatan juga. 
Nah apa saja reaksi tubuh yang terjadi ketika kita patah hati?

  1. Otak Mengirim Rasa Sakit
    Dikutip dari Female First, otak Anda memiliki banyak hormon seperti oksitosin dan dopamin, yang merupakan hormon pembangkit rasa bahagia. Ketika seseorang merasa sedih atau marah, otak akan terganggu dan dua hormon tersebut akan pergi. Meninggalkan hormon stres di otak. 

  2. Tubuh Berubah ke "Fight or Flight" mode
    Fight-or-flight adalah fenomena biologis alamiah tubuh kita, di mana jika kita mengalami ketakutan akan mengalami ancaman dan bahaya, tubuh akan secara alami merilis hormon adrenalin dan kortisol. Ini akan kita alami jika kita berada di hutan dan takut akan binatang buas, atau kita akan melakukan bungee jumping yang pertama kalinya.
    Permasalahannya adalah, ketika patah hati, entah mengapa tubuh kita berubah pada moda fight-or-flight, di mana sebenarnya tidak ada orang patah hati yang kerjaannya hanya merenung membutuhkan reaksi biologis yang menyebabkan 'adrenaline rush' semacam ini.
    Dampaknya cukup membuat tidak nyaman, seperti pegal linu, otot yang membengkak karena hormon kortisol secara alami membangun otot kita untuk persiapan dalam keadaan bahaya. Selain itu detak jantung yang berdegup kencang yang disebabkan oleh adrenalin dan kortisol.

  3. Sistem Pencernaan Terganggu
    Hormon kortisol yang dirilis secara alami oleh tubuh ketika kita patah hati dapat mengurangi aliran darah ke sistem pencernaan. Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan yang terjadi dalam pencernaan kita. Selain itu, menurut studi stress yang berkepanjangan berpengaruh pada distribusi lemak tubuh, di mana hormon kortisol akan memusatkan distribusi lemak di bagian perut.
    Tidak heran mengapa banyak orang yang makin menggemuk ketika putus cinta. Hal itu bukan karena porsi makan yang bertambah, namun karena sistem pencernaan yang tidak lancar. Sehingga distribusi asupan tak baik yang menjadi tumpukan lemak di perut.

  4. Kulit Lebih Sensitif Pada Jerawat
    Karena mereka mengalami stress level tinggi. Salah satu penyebab stressnya secara detil disebut 'dissolution of romantic relationship' atau putusnya hubungan percintaan. Orang yang mengalami hal ini akan lebih rawan berjerawat daripada orang yang tidak patah hati.

  5. Rambut Rontok
    Tingkatan stress kita yang tinggi yang menyebabkan rontoknya rambut yang membuat kita mau tidak mau harus melupakan si doi secepatnya sebelum rambut sebagai mahkota kamu yang berharga menjadi botak.

  6. Tekanan Darah Meningkat
    Dampak dari patah hati yang tidak segera hilang akan menyebabkan tekanan darah menjadi naik. Tekanan darah akan meninggi ketika seseorang mengalami stress. Nah dampak selanjutnya adalah kamu bisa gampang marah.

  7. Broken Heart Syndrome
    Ketika kita stress, salah satu bagian dari jantung akan membesar dan tidak memompa dengan begitu baik. Secara teknis hal ini disebut 'stress-induced cadiomyopathy,' dan lebih dikenal dengan broken heart syndrome. Hal ini terjadi cukup langka, seperti cacar air yang akan dialami seseorang hanya sekali seumur hidup. Dalam sejarah medis pun, hanya dua persen pasien yang terkena sindrom ini dan akhirnya terdiagnosa terkena problem koroner yang akut. (The American Heart Association)
    Berita buruknya adalah, sindrom ini lebih menjangkit wanita, di mana 80 persen dari seluruh kasus ini didominasi kaum hawa. Jadi jika sehabis putus cinta kita merasa pusing, mungkin kamu berpikir hal tersebut adalah problem kesehatan yang bisa dihiraukan. Tapi tidak! Itu adalah khayalan imajinasi kita tentang betapa sakitnya patah hati.
Efek patah hati bagi kesehatan fisik maupun mental amat merugikan. Tapi bisa diatasi, atau minimal dikurangi agar tidak sampai menurunkan kualitas hidup. Beberapa caranya adalah meditasi dengan menghirup napas dalam-dalam; mengeluarkannya secara perlahan. Dengarkan musik-musik bertempo cepat dan berkumpul dengan banyak teman yang suka berkelakar agar Anda lebih banyak tertawa. Cara ini bisa membantu tubuh melepaskan endorphin, salah satu hormon bahagia.
sumber gambar : vauzee.com