Pages

Puasamu Perisaimu




Semua orang perlu pertahanan. Semakin kuat pertahanan itu, semakin ia merasa aman.
Ada yang merasa aman dengan membangun rumah dari bahan yang kuat dan dengan jendela bertralis besi, ada juga yang merasa aman dengan membangun pagar kokoh, tinggi dan tertutup di sekeliling rumahnya.

Bahkan masih ada yang merasa itu semua belum cukup untuk membuat ia merasa aman. Masih perlu lagi satpam untuk menjaga gerbang rumahnya agar tak semua tamu bisa masuk dengan mudah.

Dan lagi, itu semua rupanya belum membuat mereka merasa sepenuhnya aman. Sebab, kuman penyakit masih bisa dengan mudah menghampiri mereka.
Karena itu mereka mengkonsumsi suplemen agar daya tahan tubuh meningkat. Ada juga yang meluangkan waktu untuk pergi ke tempat – tempat kebugaran atau penyedia jasa terapi kesehatan.

Sudah merasa amankah mereka? Belum! 

Meski mereka memiliki rumah yang kokoh, tubuh yang sehat, harta yang banyak, namun serangan musuh sejati manusia masih sangat denngan mudah menembus semua pertahanan itu.

Celakanya, banyak di antara manusia menganggap musuh sejati ini bukan ancaman, melainkan teman.

Padahal, akibat yang mereka timbulkan sangat menyengsarakan. Manusia akan menyesal seumur hidup bila tidak segera membangun perisai untuk membendung musuh yang satu ini.

Apakah perisai itu? Bukan baja penyanggah atau raga yang perkasa, apalagi harta yang berlimpah, melainkan Puasa!


Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa  sallam, dalam beberapa riwayat hadisnya, mengatakan, “Puasamu (adalah) Perisaimu”

Wallahu ‘alam.



Saatnya memperkuat periasi diri


Siapa musuh sejati manusia?



pertanyaan ini perlu kita jawab agar kita tidak salah dalam membangun perisai diri. Kita menyangka musuh jasmani lebih perlu diberangus ketimbang musuh rohani, padahal itu keliru!

Berdasarkan keterangan yang telah sampai kepada kita, ada dua musuh besar dan nyata yang senantiasa mengintai kita. Mereka adalah Iblis dan hawa nafsu.

BARA KEDENGKIAN IBLIS

Iblis adalah mahluk ghaib yang ingkar kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ia diciptakan dari bahan baku api, sedangkan manusia dari bahan baku tanah.

Karena merasa bahan bakunya lebih unggul dari manusia, ia pun sombong dan tak mau taat ketika diperintah oleh Allah Ta'ala untuk sujud (memberi hormat) kepada manusia.

Allah ta'ala kemudian murka dan menghukumnya sebagai mahluk yang ingkar.

karena kecewa dengan hukuman tersebut dan dengki kepada manusia, maka iblis melakukan perlawanan dengan mengajukan dispensasi kepada Allah Ta'ala agar ia dan keturunannya menggoda dan menyesatkan manusia di Bumi.

Iblis berkata, sebagaimana diceritakan dalam al-Quran surat Al-A'raf [7] ayat 16 dan 17, "(Ya Tuhanku), karena Engkau telah menghukum aku tersesat, maka aku benar - benar akan menghalangi mereka (manusia) dari jalan engkau yang lurus. Kemudian aku akan menghalangi mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur."

Jadi sangat jelas bahwa pekerjaan utama iblis adalah menggoda, menyesatkan dan menggelincirkan manusia dari jalan yang lurus dengan berbagai cara.

Tujuannya mengunah cara pandang manusia agar yang baik terlihat menjadi buruk, sedangkan yang baik terlihat seolah - olah baik.

Disamping itu, iblis juga senantiasa membangkitkan angan - angan kosong sebagaimana firman Allah Ta'ala:

"Iblis memberikan janji - janji dan membangkitkan angan - angan kosong kepada mereka (manusia), padahal iblis itu tidak menjanjikan kepada mereka (manusia) melainkan tipuan belaka." (An-Nisa [4] : 120)